Jelajahinfo.id — Lagu daerah Bugis berjudul Ala Masea Sea yang kerap diajarkan dan dihafal sejak masa kanak-kanak, ternyata menyimpan pesan moral yang mendalam dan relevan hingga usia dewasa.
Sebagai bagian dari khazanah budaya Bugis, lagu-lagu daerah diwariskan secara turun-temurun melalui tradisi lisan maupun tulisan. Lagu Bugis tradisional umumnya menggambarkan kehidupan masyarakatnya, mulai dari nilai adat, sejarah, perjuangan hidup, hingga pesan pendidikan dan nasihat moral.
Perkembangan sastra Bugis klasik ditempuh melalui dua jalur utama, yakni tradisi lisan dan tradisi tulisan. Tradisi lisan berkembang dari mulut ke mulut serta sering dipentaskan dalam berbagai acara adat. Sementara tradisi tulisan banyak ditemukan dalam bentuk manuskrip-manuskrip kuno yang menjadi jejak peradaban Bugis.
Salah satu ciri khas lagu Bugis terletak pada liriknya yang puitis dan sarat metafora. Tak sedikit lagu Bugis mengandung makna filosofis yang dalam, termasuk Ala Masea Sea yang dalam bahasa Indonesia dapat diartikan sebagai Alangkah Sia-sianya.
Berikut lirik lagu Ala Masea Sea:
Ala Masea sea mua
Tau naompori sesse’kale
Nasaba’ riwettu baiccuna
De’ memeng na engka na’guru
Baiccu’ta mitu nawedding siseng
Narekko battoa ni masussani
Nasaba’ maraja nawa-nawani
Enrengnge pole toni kuttue
Terjemahan bebasnya menggambarkan penyesalan seseorang yang tidak memanfaatkan masa kecil untuk belajar, sehingga ketika dewasa mengalami kesulitan karena banyaknya beban pikiran dan munculnya rasa malas.
Makna utama lagu ini menekankan pentingnya menghargai waktu dan ilmu pengetahuan. Masa kanak-kanak dipandang sebagai fase emas untuk belajar, sebab ketika seseorang beranjak dewasa, tanggung jawab hidup seperti pekerjaan dan keluarga kerap mengalihkan fokus, bahkan memunculkan sifat malas untuk menuntut ilmu.
Ungkapan Ala masea sea bukan sekadar menyatakan kegagalan, tetapi juga menggambarkan perasaan hampa dan penyesalan mendalam. Sementara kalimat Tau naompori sesse’kale seolah menegaskan bahwa penyesalan akan terus menghantui mereka yang menyia-nyiakan kesempatan belajar.
Lirik penutup enrengnge pole toni kuttue menggambarkan datangnya sifat malas sebagai dampak dari kompleksitas hidup di usia dewasa.
Sebagai karya sastra lisan, lagu Bugis seperti Ala Masea Sea memiliki nilai budaya yang tinggi dan perlu terus dilestarikan. Lagu daerah bukan hanya warisan budaya, tetapi juga sarana pendidikan karakter yang memperkaya khazanah kebudayaan nasional dan patut untuk dibanggakan.


