Kemenag Tegaskan MQK Bukan Sekadar Lomba, Tapi Diplomasi Budaya Global
Cari Berita

Kemenag Tegaskan MQK Bukan Sekadar Lomba, Tapi Diplomasi Budaya Global

Admin
Selasa, 02 September 2025

 

WAJO, Jelajahinfo.id — Di sela perhelatan Musabaqah Qira’atil Kutub (MQK) Internasional di Kabupaten Wajo, Kementerian Agama Republik Indonesia menegaskan bahwa ajang tersebut bukan sekadar kompetisi membaca kitab kuning, melainkan panggung diplomasi budaya dan intelektual Islam Nusantara ke dunia.

 

Penegasan itu mengemuka dalam Dialog Media bertajuk “Tradisi Indonesia untuk Dunia” yang digelar Biro Hubungan Masyarakat dan Komunikasi Publik Sekretariat Jenderal Kemenag RI, bekerja sama dengan Tim Humas Kanwil Kemenag Sulawesi Selatan. Acara berlangsung hangat di Aula Hotel Sallo, Wajo, Jumat (3/10/2025).

 

Dialog media tersebut menghadirkan sejumlah tokoh penting Kemenag, di antaranya Sekretaris Jenderal Kemenag RI H. Kamaruddin Amin, Kepala Biro Humas dan Komunikasi Publik Thobib Al Asyhar, serta Direktur Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren (PD Pontren) Basnang Said.

 

Sekjen Kemenag RI, Kamaruddin Amin, menegaskan bahwa MQK Internasional merupakan representasi nyata dari tradisi keilmuan Islam Nusantara yang telah mengakar selama berabad-abad. Tradisi tersebut, menurutnya, bukan hanya milik Indonesia, tetapi juga memiliki kontribusi penting bagi peradaban dunia.

 

“Pesantren adalah warisan intelektual bangsa. MQK membawa pesan bahwa tradisi keilmuan ini tidak berhenti di Indonesia, melainkan ikut memberi warna bagi peradaban dunia,” ujar Kamaruddin Amin di hadapan puluhan jurnalis lokal dan nasional.

 

Ia menambahkan, Indonesia kini dipandang sebagai role model dalam merawat keberagaman dan menghadirkan wajah agama yang damai serta berdampak nyata bagi kemajuan bangsa. Tradisi pesantren yang mengedepankan moderasi beragama dan kajian kitab kuning disebut menjadi salah satu pilar utama dalam menjaga harmoni sosial tersebut.

 

Melalui MQK Internasional, lanjut Kamaruddin Amin, pesan Islam yang ramah, damai, dan berorientasi pada keilmuan disampaikan kepada masyarakat global sebagai bagian dari diplomasi budaya Indonesia.

 

Sementara itu, Kepala Biro Humas dan Komunikasi Publik Kemenag RI, Thobib Al Asyhar, menekankan pentingnya peran media dalam menyampaikan pesan besar yang diusung MQK. Ia berharap insan pers dapat menjadi jembatan informasi agar nilai-nilai luhur tradisi pesantren dikenal luas, baik di tingkat nasional maupun internasional.

 

“Tanpa dukungan media, pesan diplomasi budaya yang dibawa MQK Internasional tidak akan sampai ke audiens global secara maksimal,” kata Thobib.

 

Dialog media ini juga diperkaya dengan pandangan akademisi Dr. H. Abdul Moqsith Ghozali dari Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), serta kesaksian langsung peserta internasional, Mohamed Khairie Bin Mohamed Shalahudeen dari Brunei Darussalam. Kehadiran delegasi mancanegara tersebut menunjukkan bahwa kajian kitab kuning ala pesantren Indonesia masih relevan dan diminati oleh berbagai negara.

 

Melalui forum dialog ini, Kementerian Agama berharap peran pesantren sebagai garda terdepan dalam menjaga tradisi keilmuan Islam semakin kokoh, sekaligus memberi kontribusi nyata bagi peradaban dunia. Pesan “Tradisi Indonesia untuk Dunia” ditegaskan bukan sekadar slogan, melainkan sebuah kenyataan.