Hasil Penyelidikan Polisi Ungkap Fakta di Balik Kasus Siswa SD di Ngada
Cari Berita

Hasil Penyelidikan Polisi Ungkap Fakta di Balik Kasus Siswa SD di Ngada

Admin
Rabu, 04 Februari 2026


Jelajahinfo.id — Kepolisian menyampaikan hasil sementara penyelidikan terkait meninggalnya YRB (10), siswa kelas IV sekolah dasar di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT), yang ditemukan meninggal dunia di area perkebunan cengkeh.


Kapolres Ngada AKBP Andrey Valentino menjelaskan bahwa peristiwa tersebut tidak berkaitan dengan permintaan alat tulis kepada orang tua, sebagaimana sempat beredar di masyarakat. Informasi mengenai buku dan pena, kata dia, muncul dari cerita ibu korban mengenai permintaan terakhir anaknya, namun bukan menjadi penyebab utama kejadian tersebut.


“Berdasarkan hasil penyelidikan, peristiwa ini bukan dipicu oleh persoalan alat tulis. Fakta di lapangan menunjukkan korban kerap mendapat nasihat dari orang tuanya karena dalam satu minggu beberapa kali tidak masuk sekolah dengan alasan sakit,” ujar Andrey saat dikonfirmasi, Rabu (4/2/2026).


Ia menjelaskan, pada malam sebelum kejadian, orang tua korban sempat menasihati YRB agar tidak bermain hujan-hujanan. Nasihat itu disampaikan agar kondisi kesehatan anak tetap terjaga dan tidak kembali absen dari sekolah.


“Mungkin dalam proses komunikasi itu, penerimaan dari sisi anak berbeda. Namun, perlu kami tegaskan bahwa nasihat tersebut tidak disertai kekerasan,” jelasnya.


Hal tersebut diperkuat dengan hasil visum yang tidak menemukan adanya tanda-tanda kekerasan fisik pada tubuh korban. Selain itu, penyelidikan juga tidak menemukan indikasi perundungan atau bullying di lingkungan sekolah yang dapat menjadi faktor pemicu.


“Kesimpulan sementara, tindakan tersebut dilakukan atas inisiatif korban sendiri. Meski demikian, penyelidikan tetap kami lanjutkan dengan menggali keterangan dari berbagai pihak untuk mengetahui faktor-faktor lain yang mungkin berpengaruh,” kata Andrey.


Dalam proses penyelidikan, polisi juga mencatat kondisi sosial dan ekonomi keluarga korban yang tergolong memprihatinkan. YRB diketahui tinggal bersama neneknya, sementara ibunya bekerja sebagai petani dan buruh serabutan untuk menghidupi lima orang anak.


Kapolres mengungkapkan bahwa latar belakang keluarga korban cukup kompleks. Ibu YRB diketahui telah berpisah dengan ayah kandung korban sejak masa kehamilan, dan korban merupakan anak dari pernikahan ketiga sang ibu.


“Setiap keluarga memiliki persoalan hidup yang berbeda-beda. Kondisi inilah yang turut kami perhatikan dalam proses pendalaman kasus,” ungkapnya.


Sebelumnya, korban diketahui meninggalkan sepucuk surat yang ditujukan kepada ibunya. Dalam surat tersebut, korban berpamitan dan meminta sang ibu untuk tidak menangis serta merelakan kepergiannya.


Dari keterangan keluarga, korban sempat meminta dibelikan buku tulis dan pena. Namun permintaan tersebut belum dapat dipenuhi karena keterbatasan ekonomi keluarga.

Kepolisian menegaskan bahwa fakta tersebut bukan menjadi penyebab langsung dari peristiwa yang terjadi.